12/6/10

Hadits Aziz dan Hadits Masyhur - Syarah Al mandzhumah Al Baiquniyyah

At Ta’liqat Al Atsariyyah ‘ala Al Mandzhumah Al Baiquniyyah adalah salah satu kitab penjelasan (syarah) dari kitab Al Mandzhumah Al Baiquniyyah yang dikarang oleh ulama terkemuka masa kini, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al Halaby. Insya Allah kami akan menerjemahkan kitab ini per pembahasan sampai selesai. Sebaiknya antum membaca dulu terjemah kitab Al Mandzhumah Al Baiquniyyah. Semoga Allah memuliakan ummat islam dengan ilmu..


عَزِيزُ مَرْوِي اثْنَينِ أَوْ ثَلاَثَــهْ * مَشْهُورُ مَرْوِي فَوْقَ مَـا ثَلاَثَهْ


Hadits ‘Aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua atau tiga orang perawi sedangkan Hadits Masyhur diriwayatkan oleh lebih dari tiga perawi



Aku berkata:”Syaikh Abdussatar ketika mendapati bait ini, beliau berkata”:

عَزِيزُ مَرْوِي اثْنَينِ يَا بَحَّاثَه * مَشْهُورُ مَرْوِي عَنِ الثَلاَثَهْ


Hadits ‘Aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang perawi wahai para peneliti.. sedangkan Hadits Masyhur diriwayatkan oleh lebih dari tiga perawi


Hadits ‘Aziz[1]: hadits yang diriwayatkan oleh perawinya dari dua orang perawi dalam seluruh tingkatan sanad, dan jumlahnya tidak kurang dari itu.

Contohnya adalah yang disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam “Nuzhatun Nadzhar” (hal. 70 – dengan tahqiq dari ku) di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas, dan Bukhari dari hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ


Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kamu sampai aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan manusia semuanya.”[2]

Hadits ini diriwayatkan dari Anas hanya oleh Qatadah dan Abdul Aziz. Kemudian Qatadah meriwayatkannya kepada Syu’bah dan Sa’id[3] dan Abdul Aziz  meriwayatkannya kepada Isma’il bin ‘Ulayyah dan Abdul Warits.  Lalu dari masing-masingnya diriwayatkan oleh banyak perawi.



Hadits Masyhur: Hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih dalam seluruh tingkatan sanad namun tidak sampai derajat mutawatir. Hadits ini disebut juga Masyhur Isthilahi.

Contohnya:

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا


“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mencabut ilmu dari para hambanya sekaligus, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga apabila Allah tidak menyisakan seorang pun yang berilmu, maka manusia mengangkat para tokoh yang bodoh, lalu mereka ditanya, sehingga mereka berfatwa dengan tanpa ilmu, dan akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.”[4]

Hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Umar oleh tiga orang atau lebih dalam seluruh tingkatan sanad sebagaimana disebutkan secara rinci di semua sanad-sanadnya.

Lihat “Fathul Bari” (I/195).

Hadits Masyhur Ghairu Ishthilahi: Hadits yang masyhur di kalangan golongan tertentu atau salah satu generasi karena faktor-faktor tertentu, bahkan terkadang suatu hadits masyhur di kalangan manusia namun tidak ada asal usulnya atau tidak ada sanadnya[5]. Masyhur ini terkadang ada yang shahih dan terkadang mutawatir. Contoh masyhur selain masyhur isthilahi adalah[6]:

  1. Masyhur di kalangan Ahli Hadits saja.

  2. Masyhur di kalangan Ahli Hadits, ulama dan masyarakat awam.

  3. Masyhur di kalangan Ahli fiqh.

  4. Masyhur di kalangan Ahli Ushul.

  5. Masyhur di kalangan Ahli Nahwu.

  6. Masyhur di kalangan masyarakat.



[1] Lihat At Tadrib (II/181) dan Ulumul Hadits (hal. 243) oleh Ibnu Shalah

[2] HR. Bukhari (14) dan Muslim (44)

[3] Ada perdebatan dalam masalah ini. Silahkan lihat komentarku pada risalah yang ku buat, An Nukat ‘ala Nuzhatin Nadzhar (hal. 70) dan lihat juga Tuhfatul Asyraf (I/305)

[4] HR. Bukhari (100) dan Muslim (2673)

[5] Tadribur Rawi (II/183). Aku memiliki kitab tersendiri tentang hadits-hadits masyhur yang dhaif (pada zaman ini)

[6] Lihat At Taqyid Wal Iidhah (hal. 263-267) oleh Al Hafidz Al ‘Iraqiy, At Tadrib (II/157), dan Taudhihul Afkar (II/406) oleh Ash Shan’aniy

0 komentar :