2/4/11

Mengkaji Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Tidak diragukan lagi, kita semua cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan mencintai Beliau termasuk Ushuluddin (dasar-dasar agama) dan membencinya merupakan sifat orang-orang munafik. Namun demikian, cinta yang sejati tidak hanya terlontar di lisan, bahkan berpengaruh pada sikapnya, seperti dengan menghidupkan Sunnahnya, menaati perintahnya, menjauhi larangannya dan beribadah sesuai contohnya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى » .


“Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk golonganku.” (HR. Bukhari)


Bukanlah dinamakan cinta yang sejati jika seseorang mengaku cinta kepada Beliau tetapi menjauhi Sunnahnya dan membuat bid’ah (mengada-ngada) dalam agama yang Beliau bawa. Seorang penyair berkata:


لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقاً لَأَطَعْتَهُ   إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطيعُ


“Kalau seandainya cintamu sejati, tentu kamu akan menaati, sesungguhnya orang yang mencintai akan menaati orang yang dicintai.”


Sejarah singkat maulid


Sesungguhnya orang yang meneliti Sirah Nabi, para sahabat dan para tabi’in, bahkan generasi yang hidup di atas tahun 350 H, tentu tidak akan menemukan adanya seorang di kalangan mereka yang menyebut-nyebut peringatan ini, menyuruh untuk memperingatinya atau mendorong untuk memperingatinya. Oleh karena itu, Al Haafizh As Sakhaawiy berkata, “Peringatan maulid asy syarif itu tidak dinukilkan dari seorang pun as salafush shaalih pada tiga abad yang utama, bahkan hal itu terjadi hanyalah setelahnya.”


Lalu kapankah peringatan maulid ini diadakan?


Seorang ahli sejarah yang bernama Al Imam Al Muqriziy rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya Al Khuthath (1/490), “Tentang beberapa hari yang dijadikan para khalifah bani Fathimiyyah sebagai hari raya dan hari besar, di mana rakyat diberi kebebasan dan mereka memperoleh kenikmatan yang banyak (di hari itu). Ia berkata:


“Para khalifah Bani Fathimiyyah dalam setahunnya memiliki hari raya dan hari-hari besar, yaitu hari besar “Akhir Tahun”, hari besar “Awal Tahun”, Hari ‘Asyura”, “Maulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam”, “Maulid ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu”, “Maulid Al Hasan dan Al Husain ‘alaihimas salaam”, “Maulid Fatimah Az Zahraa ‘alaihas salaam”, “Maulid Khalifah Al Haadhir”, “Malam Awal Rajab”, “Malam Nishfu Rajab”, hari besar “Malam Ramadhan”, “Awal Ramadhan”, “Pertengahan Ramadhan”, “Malam Penutupan”, hari raya “Idul Fithri”, hari raya “‘Idun Nahr (qurban)”, hari raya “Al Ghadiir”, “Kiswatusy Syitaa’” dan “Kiswatush shaif”, hari raya “Fat-hul Khalij”, “Hari Nuuruuz”, “Hari Ghithaas”, “Hari Kelahiran (Al Masih)”, “Khamiisul ‘adas” dan “Hari-Hari Rukuubaat”.”


Dalam It’aazhul Hunafa (2/48), Al Muqriziy berkata: “Pada bulan Rabi’ul Awwal, orang-orang diwajibkan menyalakan lampu di semua jalan baik di jalan raya maupun gang-gang kecil di Mesir.”


Pada halaman lain (3/99) di tahun 517 H disebutkan, “Acara maulid Nabi yang mulia pun berjalan di bulan Rabi’ul Awwal seperti biasanya.”


Dari sini sedikit dapat diketahui bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan maulid nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Daulah Bani Fathimiyyah di Mesir, di samping mereka adakan pula maulid ‘Ali, maulid Hasan dan maulid Husain radhiyallahu 'anhum.


Bila kita memperhatikan secara seksama hari raya-hari raya tersebut niscaya kita dapat melihat adanya pencampur-adukan antara hari raya Islam (yaitu ‘Idul Fitri dan Idul Adh-ha) dengan hari raya di luar Islam, seperti hari raya Nairuuz, Ghithaas, kelahiran Al Masih dsb. Hal ini tidaklah mengherankan karena memang Daulah Bani Fathimiyyah ini tegak untuk memudarkan cahaya Islam, mereka adalah daulah Syi’ah Raafidhah; daulah yang dikenal permusuhannya terhadap Islam dan ulamanya.


Daulah ini nama sebenarnya adalah Daulah ‘Abiidiyyah, diganti nama dengan Fathimiyyah adalah agar terkesan bahwa mereka keturunan Fatimah puteri Nabi radhiyallahu 'anha, sehingga diterima oleh masyarakat.


Penisbatan daulah mereka dengan “Fathimiyyah” sebenarnya tidak benar, karena mereka adalah keturunan ‘Abiid, bukan Fatimah. Imam Abu Syaamah (w. 665 H) seorang ahli hadits dan ahli sejarah berkata dalam kitabnya Ar Raudhatain fii Akhbaarid Daulatain hal. 200-202 menjelaskan tentang Bani ‘Abiidiyyah tersebut:


“Mereka menampakkan diri ke hadapan orang-orang sebagai orang-orang terhormat keturunan Fatimah, akhirnya mereka menguasai beberapa negeri, menindas banyak orang. Para ulama besar menyebutkan bahwa mereka tidak pantas seperti itu, nasab mereka juga tidak benar, bahkan yang terkenal adalah bahwa mereka adalah keturunan Abiid, sedangkan orang tua ‘Abiid sendiri adalah keturunan Al Qaddah seorang atheis lagi Majusi, ada yang mengatakan bahwa orang tua ‘Abiid ini adalah seorang Yahudi dari penduduk Salmiyyah di daerah Syam, ia adalah seorang tukang besi. Sedangkan ‘Abiid sendiri nama sebelumnya adalah Sa’id, ketika ia memasuki Maghribi dirubah namanya menjadi ‘Abiidullah dan mengaku-ngaku sebagai keturunan ‘Ali dan Fathimah, ia menasabkan diri dengan tidak benar, yang tidak disebutkan oleh seorang pun dari  kalangan para penulis nasab Alawi, bahkan jama’ah para ulama menyebutkan nasab sebaliknya. Lama-kelamaan ia pun menjadi raja dan menamai dirinya dengan Al Mahdiy, dibangunnya kerajaan Al Mahdiyyah di Maghrib serta menasabkan kepadanya. Dia (‘Abiid) adalah seorang Zindiq, buruk dan memusuhi Islam serta terang-terangan menampakkan sebagai syi’ah dan menggunakannya sebagai tirai dengan rasa semangat hendak memusnahkan agama Islam. Ia bahkan membunuh para fuqaha’ (ahli fiqih Islam) dan ahli haditsnya dalam jumlah besar. Memang niatnya adalah menghilangkan mereka dari dunia, agar alam ini tidak ubahnya seperti binatang, sehingga ia berhasil merusak ‘aqidah mereka dan menyesatkan mereka, dan Allah akan senantiasa menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membenci.”


Keturunannya tumbuh di atas sikap seperti itu dan siap menampakkan (permusuhan kepada Islam) secara terang-terangan saat tiba kesempatannya, jika tidak ada kesempatan, mereka menyembunyikannya. Para da’inya bertebaran di berbagai negeri, mereka menyesatkan orang-orang yang dapat mereka sesatkan, musibah besar ini terus menimpa Islam dari awal daulah mereka sampai akhirnya, yaitu dari tahun 299 H sampai tahun 567 H. Di masa kejayaan mereka, banyak sekali orang-orang Syi’ah Raafidhah dan mereka semakin kuat, di masa itu pula orang-orang dikenakan pajak, golongan selain mereka juga banyak yang mengikutinya, dirusaknya keyakinan-keyakinan berbagai kelompok yang tinggal di pegunungan di perbatasan Syam seperti Nashiriyyah, Druuz dan kelompok Hasyisyiyyah yang termasuk bagiannya, para penguasa mereka berhasil menundukkan kelompok tersebut karena lemahnya akal mereka dan karena kebodohan mereka, yang tidak mereka lakukan kepada selainnya, akhirnya orang-orang Faranj berhasil menaklukkan berbagai daerah di Syam dan jazirah, hingga akhirnya Allah memberikan nikmat kepada kaum muslimin dengan munculnya Al Baitul Ataabikiy yang dipelopori oleh semisal Shalaahuddin (Al Ayyubiy) ia berhasil merebut kembali negeri-negeri tersebut dan menyingkirkan Daulah Fathimiyyah ini….dst” (lih. Ar Raudhatain fii akhbaarid daulatain hal. 200-202)


Al Haafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan tentang bani ‘Abiidiyyah: “(Mereka adalah) orang-orang kafir, fasik dan fajir (suka maksiat).”


Dari penjelasan di atas kita pun mengetahui bahwa yang mengadakan pertama kali Maulid Nabi adalah Daulah Fathimiyyah bukan Shalaahuddin Al Ayyubiy, tidak seperti yang dikatakan oleh sebagian saudara-saudara kita dengan tanpa bukti, bahkan dialah yang menyingkirkan Daulah Fathimiyyah ini.


Secara jujur kami katakan, “Pantaskah orang-orang yang memusuhi Islam dan ulamanya dijadikan sebagai rujukan oleh kita sehingga kita ikut-ikutan memperingati maulid yang mereka adakan?!”


Hukum memperingati maulid


Ketahuilah saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya peringatan maulid ini sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ dan Qiyas yang shahih sehingga ia merupakan perkara bid’ah. Di samping itu, peringatan maulid ini:


1.   Tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah memperingati hari kelahirannya semasa hidupnya.


2.   Tidak pernah diadakan oleh generasi terbaik ummat ini (para sahabat, tabi’in dan tabi’ut taabi’in), bahkan yang mengadakannya pertama kali adalah orang-orang yang lebih dekat dengan kekafiran daripada keimanan yaitu orang-orang Bathiniyyah (Daulah Fathimiyyah).


3.   Orang yang memperingatinya sama saja telah mengerjakan larangan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya,


إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ


“Jauhilah olehmu hal yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud)


4.  Orang yang memperingatinya sama sekali tidak memperoleh pahala apa-apa, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


مَن عَمِلَ عمَلاً لَيْسَ عَلَيهِ أمْرُنا فَهُوَ رَدٌّ


“Barangsiapa yang mengerjakan amalan yang tidak kami perintahkan maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)


Niat baik tidaklah cukup, bahkan harus dibarengi dengan amal yang sesuai Sunnah.


5.   Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup, telah turun ayat kepada Beliau,


“Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu.” (terj. Al Maa’idah: 3)


Ayat ini menunjukkan telah sempurnanya agama ini dan tidak boleh ditambah-tambah.


6.   Kalau seandainya memperinghati kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah baik tentu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya sudah mendahului kita melakukannya.


7.   Kalau seandainya orang yang memperingatinya beralasan bahwa hal ini sebagai bukti cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sebagaimana telah diterangkan sebelumnya bahwa cinta yang sejati menghendakinya untuk   menghidupkan Sunnahnya, menaati perintahnya dan menjauhi larangannya.


8.   Peringatan maulid ini mirip dengan orang-orang Nasrani yang memperingati hari kelahiran Al Masih, sedangkan kita dilarang menyerupai mereka.


9.   Hari besar dalam Islam hanyalah tiga: Hari raya ‘Idul Fithri, hari raya ‘Idul Adh-ha dan hari Jum’at, selainnya adalah bukan hari besar Islam.


10.  Pada umumnya dalam acara maulid, terdapat ghuluw (sikap melampaui batas) kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, padahal hal itu dilarang oleh Beliau.


Bahkan terkadang dilantunkan sya’ir-sya’ir yang di dalamnya terdapat syirk, seperti dalam Qasidah Burdah karya Al Buwshairiy sbb:


يَاأَكْرَمَ اْلخَلْقِ مَاِلي مَنْ أَلُوْذُ بِهِ


سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ اْلحَادِثِ الْعَمَم


فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتِهَا


وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمِ اللَّوْحِ وَاْلقَلَمِ


“Wahai manusia paling mulia, kepada siapa lagi aku berlindung,


selain kepadamu ketika datang musibah yang merata,


sungguh, di antara kedermawananmu adalah dunia dan perhiasannya,


dan di antara ilmumu adalah ilmu tentang Al Lauhul Mahfuzh dan Al Qalam.”


Padahal dalam shalat, kita sering mengucapkan: “Dan hanya kepadaMu-lah (ya Allah) kami meminta pertolongan. (Al Fatihah: 5), dan di surat Al A’raaf: 188 diterangkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengetahui yang ghaib.


Melihat dalam peringatan maulid sering terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam, oleh karena itu, seorang tokoh non muslim imperials Prancis, Napoleon Bonaparte mendukung sekali acara tersebut. Bahkan saat peringatan ini semakin pudar di Mesir, ia mengeluarkan uang 300 riyal Frank untuk acara tersebut. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh ahli sejarah Mesir Al Jibritiy dalam kedua bukunya ‘Ajaa’ibul Aatsaar (2/201, 249) dan Mazh-harut taqdiis hal. 47. Al Jibritiy juga menjelaskan bahwa kaum imperialis Prancis mendukung hal itu karena di dalamnya terdapat pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam.


Kita juga sering menyaksikan, saat beberapa orang yang memperingatinya menyebutkan nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka semua berdiri, di antara mereka ada yang beranggapan bahwa ketika itu ruh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sedang datang? Subhaanallah, dari mana keyakinan ini muncul?


Padahal ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup, para sahabat tidak mau berdiri ketika Beliau datang, karena mengetahui bahwa Beliau membenci dihormati dengan berdiri. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu mengatakan,


لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ


“Tidak ada seorang pun yang paling dicintai oleh mereka (para sahabat) daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, namun mereka bila melihat Beliau (datang) tidak berdiri, karena mengetahui bahwa Beliau benci hal itu.” (Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi)


Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda,


مَنْ اَحَبَّ اَنْ يَتَمَثَّلَ لَهُ النَّاسُ ِقيَامًا فَلْيَتَبَوّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّاِر


“Barangsiapa yang suka dihormati dengan berdiri, maka hendaknya ia siapkan tempat duduknya di neraka.” (Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad)


Oleh karena itulah, para ulama di berbagai tempat dan dari berbagai madzhab fiqh dari sejak dahulu hingga sekarang telah mengingatkan kaum muslimin untuk menjauhi maulid dan tidak memperingatinya. Seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Al Fakihaniy (ulama madzhab Maliki), Syaikh Muhammad Bakhyat Al Muthii’iy (mufti Mesir), Imam Syathibiy, Syaikh Ali Mahfuzh, Syaikh Rasyid Ridha, Syaikh Basyiruddin Al Qanuujiy ulama dari India, Syaikh Muhammad bin Abdul waahhab, Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Syaikh Shaalih Al Fauzaan, Syaikh Hamuud At Tuwaijiriy, Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz (Mufti umum kerajaan ‘Arab Saudi), Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syaikh Al Albani dan lainnya.


Ditulis oleh Marwan bin Musa, disebarkan oleh www.arabic.web.id


Maraaji’: Al Maulidun Nabawiy (Nashir bin Yahya Al Haniiniy), Minhaajul Firqatin Naajiyah (M. bin Jamiil Zainu), dll.

23 komentar :

Tweets that mention Mengkaji Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam | Arabic and Online Islamic Center -- Topsy.com said...

[...] This post was mentioned on Twitter by danang, khairul umam. khairul umam said: Mengkaji Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam http://de.tk/YLL5z [...]

Endi Suhendi said...

Saudaraku, perbedaan adalah satu keniscayaan di dunia ini. Namun patutkah kita saling menyalahkan? Pernahkah anda membaca literatur-literatur yang ditulis oleh ulama-ulama besar yang memahami bahwa peringatan maulid nabi itu boleh dilakukan, atau sudah kepalang anda tidak suka dengan peringatan maulid nabi sehingga anda merasa tidak perlu lagi mempelajari pendapat-pendapat ulama yang lainnya. Dan sudahkah anda mengkaji hadits-hadits yang saudara utarakan dari berbagai aspek ilmu baik itu secara qawa`idul lughahnya, konteks historisnya dsb. tidak cukup kita hanya memahami dari makna leksikalnya saja.
Mari kita hidup dalam perbedaan yang saling menghormati tidak saling merasa paling benar, apalagi sampai mengkafirkan orang lain. bukankah ketika seoang muslim mengkafirkan muslim yang lain itu termasuk murtad?

arabic.web.id said...

ya akhil karim, komentar seperti antum sudha banyak bertebaran di dunia internet.. jadi saya tidak pelru lagi mengulangi bantahannya di artikel ini.. toh sebetulnya antara yang pro-maulid nabi dan yang anti-maulid nabi sama-sama meyakini bahwa perayaan maulid adalah bi'dah... jadi qt cukupkan saja sampai di sini.. selanjutnya urusan kita dengan Allah.. :)

ahmad said...

ana setuju kalo peringatan maulid itu bid'ah hasanah

ahmad said...

ana setuju kalo peringatan maulid itu bid’ah hasanah termasuk tulisan anda di sini juga bid'ah

ahmad said...

apasa alahnya orang non muslim menyumbang acara maulid sebagai mana pemerintah saudi menyumbang amaerika untuk menghancurkan Iarak

Bapak'e Hanifah said...

sebetulnya bagi orang yg mau berfikir
dia pasti akan mengetahui hakikat maulid..
dari segi apapun tdk akan bisa membenarkan adanya perayaan maulid..

seandainya perayaan maulid itu suatu perkara yg baik
pastilah para Shahabat Rasul dahulu telah lebih dulu merayakannya..

Achmad Sjarmufni said...

Ass ww,

Sepemahaman saya bid'ah adalah menambah atau mengurangi ajaran quran dan hadis yang berkaitan dengan ibadat (shalat, puasa dsb). Di luar itu (di luar ibadat)hukumnya boleh asalkan tidak bertentangan dengan atau dilarang oleh quran dan hadis.

Perayaan maulid merupakan sesuatu yang muncul dikemudian hari, namun bukanlah ibadat. Ia tidak dapat dibandingkan dengan menyambut kedatangan orang dengan berdiri, yang menjadi terlarang hukumnya karena dilarang rasulullah saw dalam hadisnya (dengan anggapan bahwa hadis itu sahih).

Saya belum pernah mendengar hadis dimana rasulullah saw melarang perayaan maulid. Begitupun dalam padangan hukum, ia tidak patut dilarang, karena tidak ada kesepakatan ulama yang mengatakan bahwa maulid nabi itu mudharatnya lebih besar dari manfaatnya.

Mohon pencerahan atas pemahaman saya ini.

Wass.ww.
mufni

Obet said...

Janganlah seseorang itu merasa benar sendiri, karena mungkin belum banyak mengkaji apa yang harus dikaji lebih mendalam. Apakah kita sudah optimis masuk surga?

arabic.web.id said...

justru karena kami takut kami dijauhkan dari surga.. kami enggan melakukan perbuatan yang berpotensi mengantarkan kami ke neraka.. kami sangat khawatir jika yang benar adalah keyakinan bahwa perayaan maulid adalah bidah munkaroh yang dibenci oleh Nabi dna Rasul Nya...

Bukankah jika kami tidak merayakan maulid nabi berarti kami telah keluar dari potensi salah bersikap?? yang merayakan pun tidak dapat mencela yang tidak merayakan karena status perayaan maulid nabi bukan sunnah yang diperintahkan oleh nabi, bukan begitu? sebaliknya yang anti maulid lebih unggul karena telah mengambil langkah ikhtiyath dalam berijtihad...

wallahu a'lam...

bagi ane pribadi pun.. silahkan antum rayakan maulid nabi, tapi jangan sekalipun kalian katakan bahwa perayaan tersebut merupakan sunnah.. tetapi mari kita sepakati bahwa perayaan itu adalah perbuatan bid'ah, bukan begitu? selsai perkara.. perkara setelah kita sepakat itu bid'ah, antum masih mau menjalankannya, urusan antum dengan Allah.. :) sesungguhnya kami hanyalah memberi nasihat...

assiddiqqi said...

ass..
mas admin kalau sudah berkata jadi qt cukupkan saja sampai di sini.. selanjutnya urusan kita dengan Allah.. :lol: kok anda masih menghujat orang islam mengatas namakan hadist dari rosulloh..cuma saran pelajari ilmu alquran dan hadist dari ulama yang sanatnya tersambung, kalau perlu pelajari dari ulama yang sanat dan nasobnya juga tersambung..dari ketersambungan ini merupakan kekuatan umat islam mengikis fitnah iblis2(orang2 kafir; AS) yang sekarang marak di dunia muslim kita..mas admin anda perlu tahu dulu ulama indonesia (walisongo)berdakwah itu memerangi orang kafir n musryk2,bukan memerangi agama dari datuk2nya sendiri..kalau anda renungkan betapa bagusnya islam di indonesia, meski dijajah 350tahun oleh belanda dengan misi gospel(3gnya)islam tidak goyah sama sekali..hanya 1 persen yang menjadi muratad. EH sekarang tidak dijajah saja Teory gospel telah berhasil me murtadkan orang menjadi 25%
anda camkan itu...Pejuang islam

assiddiqqi said...

:smile:

arabic.web.id said...

sesungguhnya kami hanya memberi nasihat... Insya Allah, saya hanya belajar kepada yang beriltizam dengan sunnah termasuk yang memiliki sanad sampai Rasulullah... adapun tentang walisongo, semoga Allah merahmati mereka semua yang telah mengantarkan islam ke negeri kita... sekarang mari kita berjuang semampu kita untuk mendakwahkan yang sudah islam menuju tauhid yang murni dan mendakwahkna yang belum Islam kepada Islam.. dimulai dari diri kita, keluarga, dan orang-orang terdekat...

izazil said...

Saya pernah mendengar hadist shahih,,bahwa tidak ada manusia yg masuk surga karena amal ibadahnya,,melainkan hanyalah karena rahmat Allah SWT.
Lalu atas dasar apa antum yakin bahwa kalian benar dan kami sesat??

Bahkan kita mendapatkan nikmat Islam hnyalah krn rahmat Allah SWT,,bukan karena kita ’spesial’ ataupun amal ibadah kita yg menggunung.

Oleh karena itu,,janganlah dengan mudahnya antum menjudge hal” subhat sebagai hal yg sesat. Pdhl,,sungguh,,antum sendiri bukanlah ahli surga yg pantas menunjuk sgolongan orang sebagai ahli neraka.

Sepengetahuan saya,,para Ulama’ Salaf tidak pernah berkoar-koar membid’ahkan sesuatu,,apalagi mmbuat fatwa” hal yg sesat
Mereka sibuk mmperbaiki diri sendiri,,bukan sibuk dengan mncari-cari kesalahan” orang lain.

Mereka menyebarkan manhaj pun dengan cara” yg baik,,memberi pengertian akan akidah & syari’at yg benar dengan cara yg benar pula.
Bukan koar-koar menjudge bid’ah sana-sini,,bikin fatwa” hal” subhat sebagai sesat,,dan lain-lain

Bermanhaj Salaf?? Tafaddhol..
Tapi hendaklah antum mengikuti cara” Salaf yg benar,,jangan sampai melukai saudara seiman dan Manhaj Salaf itu sendiri

Belajarlah dari Syeh Siti Jenar
Sungguh beliau adalah Wali yg mulia,,tapi karena para muridnya dengan kedangkalan ilmu berkoar-koar tentang ilmu Wahdatul Wujud,,sehingga beliau dicap sesat.

Apakah antum mau hal serupa terjadi pada manhaj antum karena ‘koar-koar’ antum,,sehingga manhaj antum terluka karena kedangkalan ilmu disertai mulut besar antum??

Ikhwah,,masih banyak musuh" kita,,Liberalis-Imperalis-Orientalis-Komunis-Zionis.
Lalu kenapa kita malah berpecah-belah menjadikan saudara sendiri sebagai musuh??

Muhasabah diri lebih baik daripada sibuk muhasabah orang lain,,Allahu A’lam…

naufal fakhzani wafda said...

assalamu'alaikum,,
alhamdulillah saya jadi tahu sejarahnya, smoga saudara" muslim yang coment d atas bisa memahami maksud tulisan ini,,
baca, pelajari dan ambil apa yang dibenarkan,,,
ijin copas y mas, untuk d sebarkan agar kaum mukmin tidak tersesat

naufal fakhzani wafda said...

tambahan lagi, mereka sebenarnya tahu mana yang benar tapi mencari pembelaan atas apa yang telah mereka kerjakan dan mereka budayakan,,

smoga Allah memberikan jalan yang lurus bagi ku, keluargaku, orang" terdekatku dan semua saudara muslimku juga yang belum muslim
smoga Allah memberikan pencerahan

baz bin taimiyah said...

emang kurang kerjaan yg punya blog ini smpai mngkafir2kan orang islam yg maulidan,urus sj orang2 yg blm islam agar jd muallaf, cb becus apa g. sok bener sok suci sok salaf sok mau masuk surga sendiri. agaknya kelebihanmu cm itu to'.
gn sj, lanaa a'maluna walakum a'maalukum. paham g???????

Anonymous said...

@baz bin taimiyah : mas jangan marah marah seperti itu ... kalau memang merasa benar bahwa perayaan maulid itu sunnah ... jangan marah 2 ... kalau marah2 harus ada hujjah yang membuktikan perayaan itu sunnah dan bukan bid'ah...jangan komen dan maraha 2 kalau tidak menunjukkan argumentasi apa - apa , sama saja dengan taqlid ...

faiz abdulkarim said...

buat yang anti maulid, anti ini itu, apa2 bid'ah, apa2 bid'ah, coba deh belajar lagi agama lebih dalam, palajari ushul fiqih, ngaji yang benar dengan menjauhkan dulu rasa benci. suatu hari nanti anda akan menyesal dengan artikel2 yang anda buat. jika sudah begitu, saya tidak tau bagaimana anda akan meralat artikel2 anda buat, bagaimana anda meminta maaf atas kesalahan anda, karena belum tentu orang2 yang membaca artikel2 anda dahulu, membaca juga ralat yang anda buat.

hamba allah said...

assalamualaikum rekan semua..

Sy merasa sangat sedih membaca artikel di web ini karena telah melarang memperingati kelahiran jungjunan kita, kekasih kita dan pemimpin kita nabi penutp semua para nabi yaitu nabi muhammad SAW.

saya bukan orang yang ahli dalam agama, dan saya juga bukan orang yang tahu banyak tentang sejarah islam.

Saya ingin bertanya kepada orang yang melarang peringatan maulid nabi , dan saya harap anda jawab dengan hati nurani kalian :

APAKAH SALAH KITA SEBAGAI UMMAT NABI MUHAMMAD SAW, MENGUNGKAPKAN RASA CINTA KITA DENGAN CARA MENGENANG DAN MEMPERINGATI KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW.....?

APAKAH SALAH KITA MENGENANG DAN MEMPERINGATI KELAHIRAN SESEORANG YANG KITA CINTAI....?

mzgun_'abdillah said...

semoga beda bukan menjadi musibah tapi berkah....,setiap ada perbedaan kembalikan lagi kepada Qur'an dan sunnah,klu logika kita sudah mendominasi,maka bukan kita yang yang mengikuti sunnah tapi sunnah yang mengikuti kita.mintalah petunjuk kepada Alloh,SWT. Semoga kita semua selalu mendapat bimbingan dari-Nya.

Anonymous said...

Marilah kita semua bersabar, sabar dalam memberi nasihat, dan sabar dalam menerima nasihat.
Allah bersama orang-orang yang sabar.

Mujahid R S said...

As-Salaamu 'alaykum. Afwan ane berkomentar. Pernah denger ga hadits yg bilang bahwa islam tidak akan tersesat selama memegang 2 pegangan, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah. Nah, sekarang yg jelas udah ada di Al-Qur'an dan As-Sunnah. Baca al-fatihah itu sangat baik, tapi apakah baik apabila al-fatihah diletakkan di saat ruku'? ga baik, karena ga ada TUNTUNANNYA. Nah kalo kalian cinta Nabi Muhammad SAW, coba kita ikutin aja yg ada. Cara kita cintai beliau kan meneladaninya, mengingat dengan mempraktekkan sunnahnya, begitu kan? Lantas islam telah sempurna, untuk apa di tambah? Sekali lagi jalani aja apa yg ada karna islam udah mentok sempurna. Bagi kalian yg marah2, tampak jelas bahwa antum hanya melakukan pembenaran tanpa dasar (Al-Qur'an dan As-Sunnah). Baca ulang komen ane, insya Alloh antum ngerti. Islam itu indah kok kalo kalian mengikuti kesempurnaannya tanpa menambahnya. Terakhir tugas kita ini mengingatkan, antum ga berhak melarang, karna sesama muslim harus saling mengingatkan, dan akhirnya hidayah Alloh yang turun atas kehendak-Nya. Turunkan emosi, karna Nabi Muhammad SAW ga ngajarin kita untuk emosi, tapi menasihati satu sama lain itu ajarannya. Wallohu a'lam. Was-Salaamu 'alaykum.